Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
Berita

Liza Maria: Anak Indonesia Harus Jadi Kreator, Bukan Sekadar Pembuat Konten

119
×

Liza Maria: Anak Indonesia Harus Jadi Kreator, Bukan Sekadar Pembuat Konten

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

EDISINEWS. ID | JAKARTA – Lebih dari tiga dekade berkarya di industri penyiaran televisi nasional, praktisi media sekaligus pemerhati program anak, Liza Maria (Maria Elizabeth), terus mendedikasikan pengalaman dan kompetensinya untuk mengembangkan kreativitas anak Indonesia.

Di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital, ia meyakini anak-anak Indonesia memiliki potensi besar menjadi kreator, sutradara, produser, animator, hingga inovator masa depan apabila mendapat ruang, pendampingan, dan akses yang memadai.

Example 300x600

Komitmen tersebut mengantarkan Liza kembali dipercaya menjadi Assistant Board of Indonesia pada Southeast Asia Video Festival for Children (SEAVFC) atau Festival Video Anak ASEAN. Selain itu, ia juga telah tiga kali dipercaya sebagai Dewan Juri SEAVFC, yakni pada penyelenggaraan di Filipina (2018), Malaysia (2024), dan Thailand (2025).

Kepercayaan itu diberikan berkat rekam jejak panjangnya di industri televisi nasional serta konsistensinya menghadirkan berbagai program anak berkualitas yang berfokus pada pengembangan kreativitas dan karakter anak.

“Latar belakang saya memang di dunia media televisi. Saya pernah berkarya di SCTV, TV7, Trans7 hingga Rajawali Televisi selama lebih dari 30 tahun. Selama itu pula saya banyak memproduksi program berbasis video. Mungkin pengalaman itulah yang menjadi salah satu alasan saya dipercaya menjadi juri dan memiliki kepedulian terhadap perkembangan anak-anak,” ujar Liza.

Menurutnya, proses pemilihan dewan juri dilakukan secara selektif. Selain memiliki pengalaman di industri media, para juri juga dinilai berdasarkan rekam jejak, kompetensi profesional, serta kontribusinya dalam menghadirkan konten yang ramah anak di kawasan ASEAN.

Baca Juga :  Para Pengemudi dan Pemilik Angkot Gelar Aksi Demonstrasi di Dinas Perhubungan Kota Bogor

Perjalanan Liza di dunia program anak dimulai sejak awal 2000-an. Pada 2003, ia memproduksi sinetron drama musikal anak “Amelia” yang tayang di RCTI dengan mengangkat lagu-lagu karya maestro musik anak A.T. Mahmud. Karya tersebut berhasil meraih penghargaan Sinetron Anak Terpuji pada Festival Film Bandung dan menjadi salah satu tonggak penting dalam perjalanan kariernya.

Saat bergabung dengan Rajawali Televisi, Liza kembali menghadirkan program anak seperti Pesta Sahabat dan Dubidubidam. Kedua program tersebut mengantarkan Rajawali Televisi meraih tiga penghargaan Anugerah Anak Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) untuk kategori Program Anak Terbaik.

“Konten yang saya buat memang sejak lama dekat dengan dunia anak. Dari sinetron musikal hingga program televisi yang memberikan ruang bagi kreativitas mereka. Itu yang membuat saya semakin yakin untuk terus mengembangkan potensi kreatif anak Indonesia,” katanya.

Liza menilai perkembangan teknologi digital telah membuka peluang besar bagi generasi muda untuk berkarya. Anak-anak kini dapat belajar membuat video, fotografi, menulis naskah, hingga mengedit konten secara mandiri. Namun, ia mengingatkan bahwa kemajuan teknologi harus diimbangi dengan pendidikan karakter dan kreativitas yang membawa nilai positif.

Baca Juga :  Platform Digital GEPRINDO Versi 1.0.0 Melalui Situs Geprindo.org Resmi Diluncurkan

“Anak-anak sekarang luar biasa karena didukung teknologi dan digitalisasi. Yang harus kita lakukan adalah mengarahkan mereka agar menghasilkan karya yang memiliki nilai positif. Jangan sekadar membuat konten untuk viral, tetapi ciptakan karya yang memiliki pesan, manfaat, dan bisa menjadi kebanggaan,” tuturnya.

Menurut Liza, sebuah karya sederhana berdurasi lima hingga sepuluh menit pun dapat memberikan dampak besar apabila dibangun dengan cerita yang kuat, kreativitas tinggi, dan pesan yang inspiratif. Melalui SEAVFC, karya-karya tersebut bahkan berpeluang mewakili Indonesia di tingkat ASEAN.

“Kalau cerita mereka bagus, penyajiannya kreatif, dan memiliki nilai, itu bisa menjadi prestasi besar. Anak-anak tidak hanya menjadi pembuat konten, tetapi juga belajar menjadi storyteller yang mampu membawa nama Indonesia di forum internasional,” ujarnya.

Dalam momentum Hari Anak Nasional 2026, Liza mengajak generasi muda untuk terus berani mengeksplorasi kemampuan diri. Menurutnya, pendidikan formal perlu dilengkapi dengan keterampilan kreatif sebagai bekal menghadapi persaingan global.

“Jangan takut untuk berkreasi. Berani berkembang, berani menyampaikan ide, dan terus mengasah kemampuan. Anak-anak perlu belajar menulis, membuat video, fotografi, editing, hingga bercerita. Semua keterampilan itu akan menjadi modal penting di masa depan,” katanya.

Liza menambahkan, membangun generasi kreatif tidak bisa hanya menjadi tanggung jawab sekolah. Orang tua, pemerintah, media, komunitas, hingga seluruh pemangku kepentingan harus berkolaborasi menciptakan ekosistem yang mendukung tumbuhnya kreativitas anak.

Baca Juga :  PUK SPTI - KSPSI PT Transportasi Jakarta Gelar Buka Puasa Bersama Manajemen PT Transportasi Jakarta

Ia juga menekankan pentingnya pemerataan kesempatan bagi anak-anak di seluruh Indonesia, termasuk di kota kecil, daerah pinggiran, hingga Indonesia Timur.

“Indonesia bukan hanya Jakarta atau kota-kota besar. Kita harus melihat anak-anak di kota kecil, daerah pinggiran, hingga Indonesia Timur. Mereka juga memiliki mimpi dan potensi yang luar biasa. Yang mereka butuhkan adalah kesempatan, pendampingan, dan ruang untuk menunjukkan kemampuan mereka,” ujarnya.

Menurut Liza, proses menemukan talenta kreatif tidak berbeda dengan pembinaan atlet berprestasi. Dibutuhkan pembinaan yang berkelanjutan agar lahir generasi yang mampu menjadi sutradara, produser, animator, kreator digital, hingga inovator di berbagai bidang.

Ia menilai Southeast Asia Video Festival for Children (SEAVFC) merupakan salah satu wadah strategis untuk mengasah kemampuan tersebut sekaligus membuka kesempatan bagi anak-anak Indonesia menunjukkan karya terbaiknya di tingkat regional ASEAN.

“Kalau kita serius membina mereka sejak sekarang, saya yakin akan lahir lebih banyak anak Indonesia yang bukan hanya berprestasi di tingkat nasional, tetapi juga mampu bersaing di tingkat internasional. Mereka nantinya bukan hanya mencari pekerjaan, tetapi juga mampu menciptakan lapangan pekerjaan melalui kreativitas yang mereka miliki,” pungkasnya.

Penulis : Tini

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *